Sebuah teka-teki kehidupan, yang sadar atau tidak sering timbul di dalam pikiran kita, mengapa saya tidak sekaya orang lain ? Mengapa mereka yang banyak bermaksiat justru semakin sukses dalam bisnisnya? Apakah ini sudah takdir saya?


Untuk itu perlu kita kaji firman Allah Ta'ala berikut ini :

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. Az Zukhruf : 32)

Bahwa Allah-lah yang mengatur pembagian rezeki kepada hambanya, Allah-lah yang mengatur penghidupan kita (ma'isyah kita) bukan orang lain, bukan pelanggan, bukan pimpinan perusahaan dan bukan diri kita, tapi Allah-lah yang menentukan seberapa banyak rezeki kita hari ini dan esok.

Lalu Mengapa Allah Menentukan Rezeki Saya Hanya Sedikit ?

Boleh jadi karena Allah tahu batas kemampuan kita, jika diberi kekayaan melimpah kita tidak lagi ingat kepadaNya, kita akan banyak berbuat maksiat. Karena Allah Maha Tahu, Dia mengetahui kadar kemampuan kita dalam menerima fitnah harta.

"Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya" (QS. Al Mu'minuun : 62)

"Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. Asy Syuura : 27)

Semua itu terjadi karena Allah tahu kapasitas dan kemampuan kita dalam menerima ujian kekayaan, semua karena kasih sayang Allah kepada hambanya, ada orang yang jika diberi kemiskinan maka dia akan bermaksiat sedangkan jika dia dalam kecukupan maka dia banyak beramal kebajikan. Sebaliknya ada orang-orang yang diberi kemiskinan justru banyak beribadah, sedangkan jika diberi kekayaan akan bermaksiat.

"Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda." (HR. Tirmidzi)

Kalau Rezeki Sudah Ditakdirkan Lalu Mengapa Kita Harus Berusaha dan Bekerja ?

Kita tidak pernah tahu takdir kita sebelum takdir itu terjadi, oleh karena itu tetaplah berusaha bekerja sungguh-sungguh dan banyak beramal kebaikan untuk menyambut takdir kita, karena kita akan dipermudah menuju takdir kita.

Tentang masalah ini, jangankan kita, sahabat Rasulullah-pun menanyakan hal yang sama, buat apa berusaha dan bersusah payah jika sudah ditakdirkan buruk ?

"Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha? Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara. Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara. Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar." (Shahih Muslim No. 4786)

Jadi bersyukurlah jika Anda termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam berbuat kebaikan. Selain dari itu, perbaiki kualitas agama kita agar kita lebih siap menerima ujian baik kekayaan dan kemiskinan, karena jika kita sudah berbuat baik dengan banyak bersedekah dan bertakwa maka Allah akan memudahkan jalan kesuksesan kita, sekali lagi renungkan firman Allah Ta'ala berikut ini :

"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah." (QS. Al-Lail : 4 - 7)

Lalu Bagaimana dengan Mereka yang Berbuat Dosa, Mengapa Mereka Justru Sukses di Dunia ini ?

Karena mereka telah melupakan peringatan Allah, maka Allah akan memberikan semua kenikmatan dunia sehingga mereka semakin lupa dan semakin banyak berbuat dosa yang akhirnya akan di azab dengan sekonyong-konyong, sesuai dengan firmannya :

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al An'aam : 44)

Jadi berhati-hatilah jika disaat kita banyak berbuat dosa dan maksiat justru Allah memberi rezeki melimpah!

Ingatlah :

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS Al Baqarah : 212)

Wallahu'alam
Hidup adalah pilihan. Terkadang kita harus memilih satu di antara dua atau bahkan sekian banyak pilihan pada waktu bersamaan. Pada saat yang sama, kita pun harus siap dengan konsekuensi-konsekuensinya sebagai buah dari pilihan tersebut. Risiko harus siap kita tanggung.

Kita akan sulit menemukan manusia yang tidak memiliki pilihan-pilihan dalam hidupnya. Hidup memang berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan perempuan, mudah dan susah, suka dan duka, dan lain-lain.

Allah SWT. telah banyak memberikan ilustrasi terhadap manusia yang diberi berbagai pilihan. Misalnya, penciptaan laki-laki (dzakaf) dan perempuan (untsa) serta keberadaan suku-suku (syu'ub) dan bangsa-bangsa (gabaail), seperti dalam QS. Al-Hujurat : 13.


يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Di akhir itu ditegaskan, siapa pun di antara yang disebut dalam ayat tersebut bertakwa, maka ia akan menjadi orang paling mulia di sisi Allah.

Ilustrasi lainnya yakni tentang kehadiran siang dan malam pada episode hidup manusia. Allah SWT. mengisyaratkan kegiatan-kegiatan yang sepatutnya dilakukan pada dua waktu tersebut sebagai bagian dari sunnatullah. Misalnya malam sebagai waktu istirahat, sedangkan siang hari untuk beraktivitas seperti bekerja. Jika di antara kita ada yang tidak menggunakan sebaik mungkin waktu malam untuk istirahat, tentu akan memperkecil peluang mata pencarian dirinya di siang hari.

Hal lain yang penting, pilihan untuk menjadi orang yang bersyukur atau kufur terhadap nikmat Allah. Banyak dijelaskan tentang konsekuensi yang akan diterima jika kita mensyukuri atau sebaliknya kufur nikmat. Salah satunya adalah dalam QS. Luqman : 12 yang menegaskan ekspresi syukur kita sejatinya adalah untuk pribadi kita, untuk diri kita bukan untuk Allah.


وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."

Menerjemahkan rasa syukur, salah satunya adalah dengan menempatkan pemberian Allah SWT. sesuai dengan proporsinya. Tangan untuk mengangkat beban, menulis, dan lain-lain dan bukan untuk berkelahi apalagi dipakai menenggak minuman keras.

Demikian pula ketika kita dilebihkan rezeki oleh Allah, menjadi pantas bagi kita apabila mengucapkan syukur dengan membelanjakan harta di jalan yang diridhai-Nya. Dalam hal ini, haji dan umrah merupakan alternatif terbaik dalam mensyukuri nikmat berupa limpahan rezeki. Apalagi di Tanah Suci terdapat sejumlah tempat yang makbul (mustajab) untuk berdoa. Sebut saja di Masjid Nabawi terdapat Raudah (taman surga) yang terletak antara mimbar dan rumah Nabi (kini makam Nabi). Sementara di Masjidilharam lebih banvak lagi tempat mustajab untuk memohon, seperti Hijr Ismail (berbentuk setengah lingkaran dekat Ka'bah), Hajar Aswad, Safa dan Marwah, Maqam Ibrahim, dan Multazam.

Sudah menjadi keyakinan seorang jemaah haji maupun umrah bahwa Multazam adalah salah satu tempat mustajab untuk meminta kepada Allah. Tentu ada banyak argumentasi mengapa doa kita dikabulkan atau tidak dalam pandangan para ulama, tetapi kenikmatan spiritual untuk dapat berdoa dan mendekap Multazam menjadi kenikmatan yang tidak ternilai harganya.

Pilihan-pilihan hidup yang semakin kompleks membuat kita membutuhkan kekuatan spiritual yang tidak hanya diekspresikan melalui doa. Menentukan pilihan terkadang membuat kita merasa kosong, apalagi jika pilihan itu sangat sulit. Bahkan, kerap muncul perasaan bersalah atas pilihan yang telah kita lakukan.

Sering kali kita diombang-ambingkan perasaan, kepentingan, dan kebutuhan hidup. Sebagai manusia yang menyandang identitas sebagai seorang Muslim sehingga kehampaan batin itu perlu diisi oleh kekuatan spiritual.

Kekuatan spiritual adalah sebuah kekuatan yang dapat menenteramkan dan membuat nyaman hati saat kita menentukan pilihan, bahkan setelah pilihan itu kita jatuhkan. Rasa nyaman atas pilihan kita sebagai yang terbaik dan diridhai Allah SWT. perlu ditopang oleh suasana, kondisi, dan tempat yang memungkinkan. Salah satunya di Multazam ketika musim haji maupun umrah.

Di depan Multazam yang letaknya lurus dengan pintu Kabah, setiap orang yang berada di dekatnya atau bahkan mendekapnya, sulit untuk tidak meneteskan air mata dan tersedu-sedu memohon doa. Setelah berdoa kepada Allah membuat kita merasa mantap menentukan pilihan hidup.

Setiap orang dapat menentukan pilihan atas persoalan yang dihadapinya berdasarkan argumentasinya masing-masing. Akan tetapi, tidak semua pilihan itu dapat memuaskan hatinya. Saat kita meminta pilihan terbaik di Multazam senantiasa akan hadir dalam diri kita ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman atas apa pun keputusan yang telah kita pilih.

Untuk itu, beruntunglah bagi setiap manusia yang dapat berdoa di Multazam dalam menentukan pilihan terbaik bagi hidupnya.***'

[Ditulis oleh H. DINDIN JAMALUDDIN, pembimbing Haji Plus dan Umrah Qiblat Tour dan dosen Fakultas Tarbiyah UINSunan Gunung Djati. Tulisan disali dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Selasa (Pon) 10 Mei 2011 pada Kolom "UMRAH & HAJI"]

by
u-must-b-lucky

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan mereka kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Berniat baik dan ikhlas kepada Allah SWT., termasuk perkara besar dan penting yang bisa menyelamatkan manusia. Niat baik adalah amalan hati, sedang hati adalah anggota tubuh manusia yang paling mulia. Karena itu amalan hati sangatlah penting dan menentukan. Dengan niat di dalam hati suatu pekerjaan akan bernilai di hadapan Allah, dan jika anggota tubuh berbuat sesuatu tanpa niat yang benar, maka ia melakukan sesuatu yang tidak berarti.

Hendaklah kita senantiasa menyimpan niat yang baik di dalam hati jika melakukan sesuatu dan mengikhlaskannya kepada Allah SWT. Jangan melakukan ketaatan, melainkan padanya niat untuk mendekatkan diri, patuh kepada-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Apabila kita mengerjakan perkara mubah, seperti makan, minum, dan tidur, maka hendaklah kita niatkan untuk memelihara tubuh, agar kuat beramal dan beribadah kepada Allah SWT., meneguhkan taqwa dan ketaatan kepada-Nya. Dengan niat seperti itu berarti kita telah menyertakan amal mubah dengan amal yang wajib, sedangkan kita telah memperoleh pahala pula, lantaran perbuatan kita telah diikat dengan niat karena Allah SWT.

Landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah SWT. semata. Maksud niat disini adalah pendorong kehendak manusia untuk mewujudkan satu tujuan yang dituntutnya. Maksud pendorong adalah penggerak kehendak manusia yang mengarah kepada amal. Sedang tujuan pendorong amat banyak dan beragam. Ada yang bersifat materil dan ada pula yang bersifat spritual. Ada yang bersifat individual dan ada pula yang bersifat sosial. Ada yang duniawi dan ada pula yang ukhrowi. Ada yang sederhana dan ada pula yang besar dan berbahaya. Ada yang berkaitan dengan nafsu perut dan ada pula yang berkaitan dengan nafsu birahi. Ada yang berkaitan dengan kenikmatan akal dan ada pula yang berkaitan dengan rohani. Ada yang dilarang, mubah, dianjurkan dan ada pula yang wajib. Ikhlas punya arti melakukan sesuatu dengan hati yang bersih dan jujur. Ikhlas adalah suatu aktivitas yang dilakukan tanpa pamrih duniawi.

Makna Ikhlas adalah menyengajakan semua amal ibadah, ketaatan dan ibadah semata-mata kepada Allah SWT. Untuk mendekatkan diri dan memperoleh keridhaan-Nya. Bukan untuk tujuan-tujuan yang lainnya, seperti berpura-pura mengerjakan ketaatan, menampilkan diri di hadapan orang banyak mengharap pujian atau tamak untuk mendapatkan suatu pemberian.

Adapun ikhlas itu sendiri, menurut Al Harwi ada tingkatannya. Ikhlas mempunyai 3 tingkatan, yaitu :
  1. Tidak memandang bahwa ia telah berbuat sesuatu.
  2. Tidak mengharap balas dan ganjaran.
  3. Tidak merasa puas dengan apa yang telah diperbuat.
Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita akan mendapatkan tiga tipe manusia dalam melakukan segala aktivitas dan segala amal-ibadahnya, yakni; mukhlis ikhlas, munafik dan riya’. Keikhlasan akan membuahkan rahmat, kemunafikan akan membawa laknat, sedangkan riya’ membawa amalan kepada kesia-siaan. Keikhlasan punya misi membangun, sedangkan kemunafikan dan riya’ jelas merusak dan sia-sia. Karena itu, perilaku riya’ dan munafik, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Perilaku munafik yang destruktif itu jelas akan merusak dimanapun ia berada. Ia akan merusak diri dan lingkungan sosialnya. Begitu pula ornag yang riya’, amalan-amalannya tidak akan diperolehnya sedikitpun di hari kemudian.

Lalu bagaimana dengan ikhlas ? Kata ini memang mudah diucapkan, akan tetapi sangat sulit direalisasikan. Untuk menjadi ikhlas dalam arti yang sebenarnya, hati ini perlu dilatih secara konkrit. Tentu saja rintangan pun selalu menghadang. Tapi begitu rintangan-rintangan itu bisa dilewati, buah keikhlasan mudah diraih. Di saat semua aktivitas yang tiada tergoda oleh rayuan duniawi dan semuanya dilakukan hanya karena Allah.

Orang mukmin yang benar adalah jika pendorong agama di dalam hatinya bisa mengalahkan pendorong hawa nafsu, porsi akhirat bisa mengalahkan porsi duniawi, mementingkan apa yang ada disisi Allah SWT. dari pada apa yang ada di sisi manusia, menjadikan niat, perkataan dan amalnya bagi Allah semata, menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya bagi Allah SWT., Rabb semesta alam. Inilah yang disebut ikhlas.

Sesungguhnya Islam menolak perangkap dan dualisme yang dibenci, yang sering kita lihat dalam kehidupan manusia akhir zaman ini, sehingga terkadang kita melihat seseorang di mesjid atau aktif berpuasa pada bulan Ramadhan, tapi kemudian dalam kehidupan mu’amalahnya dengan sesama, atau dalam tindak tanduknya dia merupakan sosok manusia lain. Ikhlaslah yang kemudian menyatukan kehidupan orang muslim dan menjadikan semua sisinya hanya bagi Allah SWT. Shalatnya, ibadahnya, hidupnya dan matinya, semua bagi Allah Rabbal ‘Alamin.

Dengan hujjah iman yang nyata dan cahaya Al Qur’an, seorang muslim sejati mengetahui bahwa kebahagiaan tak bakal tercapai kecuali dengan ilmu, amal dan ibadah. Hidup seseorang tiada berarti kecuali dengan ilmu. Orang-orang yang berilmu pun akan merugi jika tidak mengamalkannya. Dan amal yang tidak disertai dengan landasan ikhlas karena Allah adalah gambar mati. Raga tanpa jiwa.

Menurut Iman Al Ghazali rahimahullah bahwa dunia ini adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu. Semua ilmu adalah hujjah atas pemiliknya kecuali yang diamalkan. Semua alam akan sia-sia kecuali yang didasari dengan ikhlas.

Sehingga banyak orang bijak berkata, ”Ilmu laksana benih, amal laksana tanaman, sedang ikhlas adalah air yang menyiraminya.

Wallahu a’lam bissawab.***

[Ditulis oleh BUYA H. MAS’OED ABIDIN]

by :
u-must-b-lucky
Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi...........

Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya sendiri; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar dapat berkhidmat kepada kita.
Diantara mereka ada yang merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.

Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta.

Orangtua dan anak hanya berjumpa nanti 
di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala... 

Saat itu ada yang menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Di saat ada anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka, dan tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama kepada mereka.

Apakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala. Inilah hari ketika kita tak dapat dibela oleh pengacara, dan para pengacara sekalipun tak dapat membela diri mereka sendiri.

Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?

Dan dunia ini adalah ladangnya...

Kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati.

Anak-anak berpisah dengan kita untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah SWT.

Tingkatan amal kita dan anak-anak boleh jadi tak sebanding... entah mana yang lebih tinggi... Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah? 


Apakah kita benar-benar mencintai anak kita?

Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga mengkhawatirkan nasib mereka di akhirat sebagaimana diantara kita mengkhawatirkan nasib kita "nanti" nya?

Kita menyibukkan diri menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi disamping untuk diri kita sendiri... apakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Pandanglah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Apakah engkau relakan wajahnya tersulut api neraka hingga melepuh kulitnya?

Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Apakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Mari cintai anak-anak kita untuk selamanya!

Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala.

Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga.

Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi...

Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***

[Tulisan asli dari Mohammad Fauzil Adhim penulis buku best seller "Segenggam Iman untuk Anak dan Saat Berharga untuk Kita"]


by

u-must-b-lucky
Pilih surga atau neraka ? Jika pertanyaan tersebut disampaikan kepada manusia, dengan pengetahuan yang seadanya, dengan bekal info minim bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang manusia pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah.
Dari Abu Hurairah RA. sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda : "Ketika ALLAH SWT. menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, 'Pergi dan lihatlah (surga itu).' Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, 'Tuhanku, demi keperkasaan-Mu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya.' Kemudian ALLAH SWT. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, 'Wahai Jibril ! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu).' Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, 'Tuhanku, demi keperkasaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya." 

Rasulullah SAW. juga bersabda : "Tatkala ALLAH SWT. menciptakan neraka, Dia berfirman, 'Wahai Jibril ! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu dan kemuliaan-Mu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuali ia tidak berkeinginan untuk memasukinya.' Kemudian ALLAH SWT. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, 'Wahai Jibril ! Pergi dan lihatlah neraka itu.' Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, 'Wahai Tuhanku, demi keperkasaan-Mu dan kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya." (Abu Daud)

Surga dan neraka diibaratkan sebagai hadiah / ganjaran bagi setiap orang yang telah menjalani proses ujian. Dan yang lebih ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung jawabkan di hadapan ALLAH SWT. kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh ALLAH SWT.

Jangan dibayangkan bahwa ujian itu selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan ALLAH SWT. justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekufuran. Tapi, jangan dibayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari ALLAH SWT. Sebab, siapa tahu dikala kita sehat tapi tidak bersyukur kpd ALLAH SWT., kita kaya raya tapi kikir, kita tenar tapi merendahkan orang lain, kita berkuasa tapi dzalim.

Ini akan semakin meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan selalu datang menghampiri kita. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada ALLAH SWT. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.

Pertanyaannya sekarang apakah ada yang mau menjadi penghuni surga ? Kalau mau menjadi penghuni surga, maka dalam setiap kehidupan kita pastikan selalu dalam koridor syariat ALLAH SWT., yakni Islam. Bukan yang lain. Landasan berbuat kita adalah halal-haram menurut ajaran Islam. Penilaian kita terhadap suatu perbuatan apakah baik-buruk atau terpuji-tercela juga wajib mengikuti aturan baku yang ditetapkan Islam. Bukan yang lain.

Berikut ini adalah syaratnya untuk menjadi Penghuni Surga :
  1. Beriman kepada ALLAH SWT.
  2. Berilmu agar bisa membedakan mana yang salah dan benar—baik ilmu agama maupun ilmu umum.
  3. Beramal baik.
  4. Berdakwah, yakni melakukan amar ma’ruf (mengajak kebaikan) sekaligus nahyi munkar (melarang kemungkaran) baik melalui lisan maupun tulisan dan sarana lainnya.
  5. Ikhlas dalam setiap amal kita.
Semoga kita menjadi salah satu penghuni surga-Nya kelak. Mulai sekarang mari kita cintai Islam, pelajari, pahami, dan amalkan ajarannya. Jangan lupa semarakkan syiarnya dengan dakwah. Jangan kalah dengan syiar yang miskin manfaat apalagi syiar yang sudah jelas maksiat kepada ALLAH SWT. Hidup kita di dunia ini cuma sekali dan sementara pula. Waktu kita makin berkurang setiap detik, maka mari berlomba dalam kebaikan untuk mendapat ridho-Nya.

Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***


by
u-must-b-lucky


Banyak sekali ayat ataupun hadits-hadits Rasulullah, yang menyatakan tentang perbandingan antara keutamaan dan kenikmatan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia, yang mana akan didapati betapa jauhnya kemuliaan diantara keduanya, bahkan tidak sedikit akan adanya celaan terhadap kehidupan dunia.

Akan tetapi celaan tersebut tidaklah ditujukan kepada siang dan malamnya, bumi tempat dunia ini berada, lautan, sungai-sungai, hutan dan yang lainya karena semua itu adalah nikmat Allah bagi hamba-hamba Nya, tetapi celaan itu ditujukan kepada polah tingkah anak Adam dan penghuninya terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman:


 ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬ وَزِينَةٌ۬ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٌ۬ فِى ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَوۡلَـٰدِ‌ۖ
Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri diantara kalian dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak.” (QS. Al-Hadid: 20)

Dan ditegaskan secara jelas oleh Allah Ta'ala dalam firman Nya:


وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬‌ۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ‌ۗ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[3]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An'am: 32)

Dunia ini hanyalah jalan menuju surga dan neraka, tempat manusia mengumpulkan perbekalan untuk menuju kehidupan abadi, dan bertemu Allah Ta’ala Sang Pencipta alam semesta, Yang akan menilai dan menerima bekal tersebut serta mengganjarnya, jika baik maka nikmat surga yang akan ia dapatkan dan jika buruk maka azdab yang pedihlah yang akan dirasakan.

SIKAP MANUSIA TERHADAP KEHIDUPAN DUNIA
Pertama; Orang-orang yang mengingkari adanya negeri pembalasan setelah alam dunia. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَٱطۡمَأَنُّواْ بِہَا وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَـٰتِنَا غَـٰفِلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tentram dengan kehidupan itu serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami , mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 7)

Kedua; Orang-orang yang meyakini adanya alam pembalasan setelah kematian. Merekalah orang-orang Yang mengikuti para Rasul. Dalam hal ini mereka tergolongkan menjadi 3 (tiga), yaitu:
1. Zhalimun linafsih
Orang yang menzhalimi diri sendiri. Bagi mereka dunia adalah segalanya, terbuai oleh keindahannya yang menipu. Mereka ridha, murka, setia (berwala’) dan benci (bara’) karena tendensi dan motivasi dunia semata. Mereka beriman kepada akhirat secara global tetapi mereka tidak mengerti tujuan hidup didunia, bahwa tidak lain ia adalah suatu tempat untuk berbekal menuju kehidupan berikutnya.

2. Muqtashid 
Mereka adalah orang-orang yang menikmati dunia dari arah yang dibenarkan, mubah. Mereka melaksanakan seluruh yang wajib, akan tetapi membiarkan dirinya bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak mendapatkan hukuman akan tetapi derajat mereka rendah. Umar bin Khattab berkata : “Seandainya derajat surgaku tidak dikurangi pasti aku akan menantang kalian dalam hal kehidupan dunia. Tetapi aku mendengar Allah mencela suatu kaum dalam firman-Nya:

وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَـٰتِكُمۡ فِى حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا وَٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِہَا فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ
”Dan [ingatlah] hari [ketika] orang-orang kafir dihadapkan ke neraka [kepada mereka dikatakan]: "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu [saja] dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik". (QS. Al-Ahqaf: 20)

3. Sabiqun bil khairat bi idznillah.
Mereka adalah orang-orang yang paham tujuan dari dunia dan beramal sesuai dengannya. Mereka mengerti bahwa Allah menempatkan hamba-hambaNya dinegeri ini untuk diuji, siapa yang paling baik amalnya, yang paling zuhud kapada dunia dan paling cinta kepada akhirat. Golongan yang ketiga ini merasa cukup dengan mengambil dunia sekadar sebagai bekal seorang musafir. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:
 
 إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةً۬ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّہُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬
Dan sesungguhnya Kami jadikan apa saja yang ada dimuka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya kami uji siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

BAHAYA MENCINTAI DUNIA
Cinta dunia akan melengahkan seseorang dari cinta kepada Allah Ta’ala dan berdzikir kepadaNya, barang siapa dilengahkan oleh harta bendanya dia termasuk dalam kelompok orang-orang yang merugi. Dan hati, jika telah lalai dari dzikrullah, pasti akan dikuasai setan dan disetir sesuai kehendaknya. Setan akan menipunya sehingga ia merasa telah mengerjakan banyak kebaikan padahal ia baru melakukan sedikit saja atau bahkan tidak melakukannya sama sekali.

Abdullah bin Mas’ud pernah berkata : ”Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta itu adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan”. Ulama yang lain berkata : ”Cinta dunia itu pangkal dari segala kesalahan dan pasti merusak agama ditinjau dari berbagai sisi, diantaranya :

Pertama; berakibat pengagungan terhadap dunia secara berlebihan, padahal ia di sisi Allah sangatlah remeh, adalah termasuk dosa yang sangat besar mengagungkan sesuatu yang di anggap remeh oleh Allah.

Kedua; Allah telah melaknat, memurkai dan membencinya, kecuali yang ditujukan untuk Allah. barang siapa mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai dan dibenci Allah berarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa dan kemurkaan dari Allah.

Ketiga; orang yang cinta dunia akan lebih cenderung menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya, sehinggga ia terjatuh dalam kesalahan, yaitu menjadikan sarana sebagai tujuan dan berusaha untuk mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Allah Ta’ala berfirman

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَہَا نُوَفِّ إِلَيۡہِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِيہَا وَهُمۡ فِيہَا لَا يُبۡخَسُونَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ‌ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيہَا وَبَـٰطِلٌ۬ مَّا ڪَانُواْ يَعۡمَلُونَ
Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan.” (QS. Hud: 15-16

Demikianlah bahwa cinta dunia dapat menghalangi seseorang dari pahala, merusak amal, bahkan bisa menjadikannya orang yang pertama kali masuk neraka.

Keempat; mencintai dunia akan menghalangi seorang hamba dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat, ia akan sibuk dengan apa yang dicintainya. Ada yang disibukkan oleh kecintaannya dari iman dan syari’at, dari kewajiban-kewajiban yang seharusnya ia laksanakan, atau dalam waktu yang tidak tepat, atau hanya sebatas pelaksanaan lahiriahnya saja, paling tidak kecintaanya terhadap dunia akan melalaikan hakikat kebahagiaan seorang hamba yaitu kosongnya hati selain untuk mencintai Allah dan diamnya lisan selain berdzikir kepadaNya, juga ketaatan hati dan lisan dengan Rabbnya.

Kelima; berlebihan mencintai dunia akan menjadikan harapan utama pelakunya ketika hidup adalah dunia itu sendiri.

Keenam; orang yang berlebihan mencintai dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negeri; di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Didunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Adapun di alam barzakh mereka diazab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan. Di sana tidak sesuatupun yang menggantikan kedudukan kecintaannya kepada dunia, kesedihan, kedukaan, dan kerugian terus-menerus mencabik-cabik ruhnya, seperti halnya cacing dan belatung melakukan hal yang sama kepada jasadnya, demikianlah pecinta dunia akan di azab dikuburnya, dan juga pada hari akhirat nanti yaitu pada hari pertemuan dengan Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman 



فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٲلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُهُمۡ‌ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَہُم بِہَا فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُہُمۡ وَهُمۡ كَـٰفِرُونَ
Janganlah engkau ta’jub dengan harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 55
Menafsirkan ayat diatas sebagian ulama salaf berkata :”Mereka diazab dengan jerih payah dan kerja keras dalam mengumpulkannya. Nyawa mereka akan melayang karena cintanya dan mereka menjadi kafir karena tidak menunaikan hak Allah sehubungan dengan kemegahan dunia itu”.

Ketujuh; orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya dari pada akhirat adalah makhluk yang paling tidak mengerti, bodoh, dungu dan tidak berakal. Karena mereka lebih mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal itu dengan kenikmatan yang semu. Manusia yang berakal cerdas (baca : bertaqwa) tentunya tidak akan tertipu dengan hal semacam ini. 
Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang, disangka memiliki hakikat yang tetap padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai.

Dunia juga sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu pun. Justru yang ia dapati adalah Allah Ta’ala dengan hisabNya, dan Allah sangat cepat hisabNya.

Maka saudaraku, marilah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, untuk meraih ridha Allah Ta’ala, surga Nya dan apa-apa yang telah dijanjikan Nya serta keutamaan-keutamaan di alam akhirat yang kekal abadi, yang mana Allah Ta’ala telah menegaskan dalam firman Nya bahwa:


 وَٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ وَأَبۡقَىٰٓ
Dan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa : 17)

Jangan sampai kita tertipu oleh tipu daya setan yang senantiasa menggoda anak cucu Adam agar tergelincir, sehingga terjerumus kepada kesesatan, penyimpangan, memperturutkan segala keinginan hawa nafsu sehingga lupa hak-hak Allah Ta’ala yang harus ditunaikan serta lupa dari kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah terlihat oleh pandangan mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terbayangkan dalam benak hati manusia. Itulah kenikmatan yang Allah Ta’ala janjikan bagi hamba-hambaNya yang mendapatkan rahmat dari Nya.
Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***

[Tulisan disalin dari Abu Thalhah Andri Abd Halim, Di nukil dari “Tazkiatun-Nufus” DR. Ahmad Farid, (Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qayyim dan Imam al-Gazhali)]

by
u-must-b-lucky
Pada suatu hari Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabi'ah. la meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. 

Ia berkata, "Ya Aba Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya!" 

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, "Jika kau mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, aku tidak keberatan kau berbuat dosa."

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar Jahdar balik bertanya, "Apa saja syarat-syarat itu, ya Aba Ishak ?"

  1. Syarat Pertama: "Jika engkau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rezeki Allah," ucap Ibrahim. Jahdar mengrenyitkan dahinya lalu berkata, "Lalu aku makan dari mana ? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rezeki Allah ?" "Benar." jawab Ibrahim dengan tegas. "Bila engkau telah mengetahuinya, masih pantaskah engkau memakan rezeki-Nya, sementara kau terus-menerus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintahnya ?" "Baiklah." jawab Jahdar tampak menyerah. "Kemudian apa syarat yang kedua ?"
  2. Syarat Kedua: Syarat ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. "Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya." kata Ibrahim lebih tegas lagi. "Apa ? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana ? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah ?" "Benar wahai hamba Allah. Karena itu, pikirkanlah baik-baik, apakah kau masih pantas memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kau terus berbuat maksiat?" tanya Ibrahim. "Kau benar Aba lshak." ucap Jahdar kemudian. "Lalu apa syarat ketfga?" tanya Jahdar dengan penasaran.
  3. Syarat Ketiga: "Kalau kau masih bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat bersembunyi dari-Nya." Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. "Ya Aba Ishak, nasihat macam apa semua ini ? Mana mungkin Allah tidak melihat kita ?" "Bagus ! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rezeki-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, pantaskah kau melakukan semua itu ?" tanya Ibrahin kepada Jahdar yang masih tampak bingung dan terkesima. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabi'ah tidak berkutik dan membenarkannya. "Baiklah, ya Aba Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat keempat ?"
  4. Syarat Keempat: "Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh." Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukannya selama ini. la kemudian berkata, "Tidak mungkin... tidak mungkin semua itu aku lakukan." "Wahai hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah ?" Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir.
  5. Syarat Kelima: Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasihat kepada lelaki itu. "Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendak menggiringmu ke neraka di hari kiamat nanti, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah !" Lelaki itu nampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasihatnya. la menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, "Cukup ? cukup ya Aba Ishak ! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah."
Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. la mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyu'. Ibrahim bin Adham yang sebenamya adalah seorang pangeran yang berkuasa di Balakh itu mendengar bahwa di salah satu negeri taklukannya, yaitu negeri Yamamah, telah terjadi pembelotan terhadap dirinya. Kezaliman merajalela. Semua itu terjadi karena ulah gubernur yang dipercayainya untuk memimpin wilayah tersebut.

Selanjutnya, Ibrahim bin Adham memanggil Jahdar bin Rabi'ah untuk menghadap. Setelah ia menghadap, Ibrahim pun berkata, "Wahai Jahdar, kini engkau telah bertaubat. Alangkah mulianya bila taubatmu itu disertai amal kebajikan. Untuk itu, aku ingin memerintahkan engkau untuk memberantas kezaliman yang terjadi di salah satu wilayah kekuasaanku." Mendengar perkataan Ibrahim bin Adham tersebut Jahdar menjawab, "Wahai Aba Ishak, sungguh suatu anugrah yang amat mulia bagi saya, di mana saya bisa berbuat yang terbaik untuk umat. Dan tugas tersebut akan saya laksanakan dengan segenap kemampuan yang diberikan Allah kepada saya. Kemudian di wilayah manakah gerangan kezaliman itu terjadi ?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kezaliman itu terjadi di Yamamah. Dan jika engkau dapat memberantasnya, maka aku akan mengangkat engkau menjadi gubernur di sana."

Betapa kagetnya Jahdaar mendengar keterangan Ibrahim bin Adham. Kemudian ia berkata, "Ya Allah, ini adalah rahmat-Mu dan sekaligus ujian atas taubatku. Yamamah adalah sebuah wilayah yang dulu sering menjadi sasaran perampokan yang aku lakukan dengan gerombolanku. Dan kini aku datang ke sana untuk menegakkan keadilan. Subhanallah, Maha Suci Allah atas segala rahmat-Nya." Kemudian, berangkatlah Jahdar bin Rabi'ah ke negeri Yamamah untuk melaksanakan tugas mulia memberantas kezaliman, sekaligus menunaikan amanah menegakkan keadilan. Pada akhirnya ia berhasil menunaikan tugas tersebut, serta menjadi hamba Allah yang taat hingga akhir hayatnya.

Wallahu A'lam Bish-Shawab. ***


[Tulisan disalin dari Buletin Da'wah Al-Fatihah Edisi 262 Tahun VII 2010 M/1431]

by
u-must-b-lucky
Siapa pun yang mengkaji Islam dengan menggunakan kecerdasannya dan kejernihan hatinya akan menyimpulkan bahwa Islam merupakan agama profesional. Rahasianya adalah ajaran Islam tidak sekadar rutinitas ritual melainkan juga sebagai ideologi. Seluruh aspek kehidupan merupakan suatu sistem utuh yang telah diciptakan oleh Zat Mahasempurna yakni Allah SWT. Dan, dalam realitasnya juga bisa dimengerti bahwa sistem Islam tersebut sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan akal dan menenangkan hati.

Demikian halnya, terhadap persoalan perilaku (behavior), yang secara khusus menyangkut produktivitas hidup dan kerja, Islam demikian memberikan panduan dan bimbingan yang luar biasa. Hanya orang yang tidak mempelajari Islam atau orang yang terlebih dulu tidak menyukai Islam, mereka sudah antipati denganya. Seakan Islam merupakan agama nenek moyang yang tidak memiliki sistem sebagaimana gambaran orang-orang yang buta dengan Islam. Padahal jika dipelajari dalam konteks ini, Islam demikian mengatur terhadap persoalan kerja, kinerja, dan sebagainya.
Islam mengajarkan bahwa kerja merupakan bagian dari aktivitas ibadah. Bekerja tidak sekadar untuk mendapatkan penghasilan atau rezeki, tetapi juga bernilai tambah karena Islam menegaskan bahwa bekerja keras melaksanakan kewajiban rumah tangga bagi seorang pria akan diganjar dalam bentuk pahala.

Hal ini terangkum dalam Al-Qur'an Surat Adz Dzariat (51) ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wama khalaqtu aljinna waalinsa illa liyaAAbudooni

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dari ayat tersebut saja sudah bisa dipahami bahwa jika suatu pekerjaan disebut merupakan bagian dari ibadah, maka barang siapa melakukannya maka akan mendapatkan pahala.

Islam memberikan motivasi yang luar biasa bagi umatnya untuk berprestasi. Islam, dalam banyak hadits memberikan pujian dan penghargaan yang sangat besar bagi kaum Muslim yang menjadi pekerja keras. Bahkan dikatakan oleh Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi,
"Tidakkah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari keringatnya sendiri."

Dari Zubair bin Awwam, Rasulullah SAW. bersabda,
"Jika salah seorang dari kalian pergi membawa kapaknya, lalu datang membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lalu ia menjualnya hingga Allah menyelamatkannya dari kehinaan. Maka yang demikian itu jauh lebih baik dari ia meminta-minta pada orang lain." (HR. Bukhari)

Apa yang diungkapkan dalam hadits di atas bermakna bahwa ajaran Islam sudah mewanti-wanti agar umatnya sungguh-sungguh bekerja secara aktif dan tidak bergantung kepada orang lain. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW. bersabda
"al yadul 'ulya khairun minal yadissufla— tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."

Artinya kinerja seorang Muslim adalah aktif, bukan pasif. Seorang Muslim tidak akan menjadi "benalu" yang hinggap dan hanya membebani orang lain. Dalam konteks ini mestinya ada kesadaran kuat untuk menjalankan "teologi kerja (job theology)" atau suatu niat suci untuk selalu menganggap pekerjaan kita sebagai ibadah dan bentuk pengabdian kita pada Yang Mahaagung.

Ketika kita bekerja di kantor dengan asal-asalan dan menghasilkan kualitas di bawah standar, atau ketika ketika kita hanya mempu menciptakan pelayanan yang centang-perenang dan membuat para pelanggan patah arang, maka mestinya kita menanggap ini semua sebagai sebuah "dosa" dan kita mesti merasa malu dihadapan Yang Mahatahu.

Sebaliknya, ketika kita selalu bisa mempersembahkan kinerja yang istimewa, atau ketika kita mampu mengagas dan melaksanakan ide-ide kreatif untuk memajukan perusahaan, maka mestinya ini semua tidak melulu didasari oleh keinginan untuk naik pangkat, atau mendapat bonus yang besar, melainkan pertama-tama mesti dilatari oleh niatan suci untuk beribadah.

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad SAW. juga adalah seorang pedagang yang ulet. Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Bila kamu telah shalat Subuh, maka janganlah kamu tidur dan meninggalkan rezeki."
Selanjutnya Nabi mengatakan,
"Sesungguhnya Allah tak menyukai hamba yang santai (tak bekerja)."

Umar RA. mengatakan, "Janganlah kamu duduk saja berdoa. Ya Allah berilah aku rezeki, padahal ia tahu bahwa Allah tak akan menurunkan hujan emas dan hujan perak."

Dalam Surat Al-Insyirah (94) ayat 7, Allah berfirman,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Faitha faraghta fainsab

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,

Kesemuanya ini sudah jelas menjadi penanda bahwa Islam sangat mendorong timbulnya etos kerja dan paradigma berusaha pada diri setiap kaum Muslim. Manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya. Oleh karena itu, Islam senantiasa memotivasi umatnya untuk terus bersemangat dalam bekerja dan berusaha. Setiap Muslim harus berusaha untuk mandiri, tidak membebani orang lain, apalagi dengan meminta-minta setiap saat. Bekerja dalam Islam bukan sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagian dari pelaksanaan ibadah yang melahirkan kemuliaan.

Wallahualam bissawab. ***

[Ditulis Oleh AHMAD SUTARJO, Koordinator DKM Al Insaniyah Cikole Kabupaten Ciamis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 6 Desember 2013 / 3 Safar 1435 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky